Tuesday, December 17, 2013
My First Long Distance Cycling Experience (judulnya kayak tugas anak kelas 4 SD gak sih?)
Thursday, October 31, 2013
Aku Ingin Pulang
Aku ingin pulang, mencari jawaban diantara panasnya pagi dan basahnya siang di bulan November.
Aku ingin pulang, mencari-cari kepingan jawaban yang tak kutemukan diantara tumpukan batu bata berbentuk persegi.
Aku ingin pulang, menyelami dalamnya samudera yang gelap, mencumbui setiap gelombangnya.
Aku ingin pulang, membebani pundak dengan alat-alat bertahan hidup menuju ke ketinggian, lebih dekat dengan Sang Pencipta.
dan pada akhirnya aku hanya ingin mendengarkan nasehat seorang ayah, usapan di punggung oleh seorang ibu, celoteh adik dan senyum kakek nenekku.
Aku ingin pulang.
Friday, September 27, 2013
Ketika Setan Lebay Jadi Teman
Wednesday, August 28, 2013
Bayi Sebelas Hari
Enam belas bulan yang lalu, tepatnya 9 April 2012 dua bayi ini lahir dengan empat saudaranya yang lain. Si bungsu aku beri nama Timmy, sedangkan si nomor dua ini aku beri nama Black. Tanggal 19 April 2012, ketika umur mereka masih 10 hari mereka harus ditinggalkan induknya. Peristiwa yang tidak pernah akan aku lupa, Bilbil si ibu sudah kaku ditemukan di atap rumah dan sampai sekarang aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bilbil. Rasanya pasti sedih, hewan peliharaan yang kamu rawat dengan baik tiba-tiba sudah ditemukan tidak bernyawa, ditambah dia meninggalkan enam ekor anaknya yang masih berumur 10 hari.
Sejak saat itu, akhirnya aku memutuskan untuk tetap merawat si bayi-bayi ini. Aku menjadi pengganti Bilbil, ya karena aku harus memberi mereka susu. Sama halnya dengan bayi manusia, bayi kucing pun membutuhkan ASI untuk pertumbuhan mereka, bedanya bayi kucing hanya sampai umur 2 bulan. Hari pertama aku beri mereka susu khusus untuk kucing, cukup sulit untuk membiasakan mereka minum dari dot. Hari berikutnya aku ganti dengan susu SGM khusus untuk bayi baru lahir, sampai usia mereka 2 bulan. Setiap dua jam sekali aku harus mengganti susu mereka dengan yang baru, aku rebus dot-dot mereka, setiap jam 2 pagi ketika mereka terbangun karena lapar aku pun terbangun dan langsung menyusui mereka, begitu seterusnya setiap dua jam sekali. Aku menikmati masa-masa itu, rasanya seperti punya bayi.
Sekarang, bayi-bayi ini sudah berumur 16 bulan dan aku harus ikhlas melepaskan mereka. Bukan, bukan karena aku sudah tidak menyayangi mereka lagi. Ini keputusan yang paling berat yang pernah aku ambil, sebuah keputusan yang mengalahkan ego diri. Aku mencintai mereka, mencintai mereka melebihi apapun.
Timmy, kucing betina bewarna putih kotor ini dulu kondisinya sangat memprihatinkan. Badannya kecil, bulu-bulunya rontok sampai ada beberapa bagian tubuhnya yang membotak. Kucing yang selalu menyendiri. Namun, ketika beranjak besar bulu-bulunya tumbuh lebat, jadi kucing yang cantik dengan mata berwarna biru muda. Porsi makannya juga paling banyak, paling pertama antri kalau aku sedang menyiapkan makan mereka.
Timmy, besok-besok gak bakal ada yang iseng colek-colek kaki orang yang lewat pake kukunya. Timmy cantik, aku pasti bakal kangen banget sama kamu. Kangen kamu yang rakus, kangen kamu yang sombong, gak mau disisir.
Black, kucing yang paling tengil. Waktu bayi paling galak, karena kalau lagi disusuin dia yang paling sering nyakarin sodara-sodaranya demi berebut dot. Kucing dengan mata bulatnya yang kepo, mata yang selalu membesar kalau lagi kaget. Kucing yang paling sering bersuara, paling sering request dielusin sambil guling-guling di lantai.
Ah Black, besok aku gak akan nemuin kamu lagi nongkrong di balkon sambil liat ke bawah. Aku gak bakal denger suara protes kamu kalau aku telat kasih makan. Black, aku sayang kamu, maafin aku ya Black kalo akhirnya kita gak bisa sama-sama lagi.
Aku sayang kalian berdua, maafin aku karena kondisi aku sekarang aku gak bisa bareng kalian lagi. Semoga orang tua kalian yang baru lebih sayang ya sama kalian. I love you two, and I'll be missing you all the times...
*balkon rumah, ditemani Black dan mata berair sebesar jengkol
Thursday, August 22, 2013
J.E.A.L.O.U.S
Iya kamu, kamu dan kamu!
Kalo pengen tau kenapa itu kamunya ada tiga? Iya itu "kamu" yang satu didedikasiin buat temen kompor gue, yang senantiasa kasih gue nasehat super bijak tapi bikin mata berair! Fakkkk!
"Kamu" yang dua ya silakan berasumsi aja elo siapa!
Oh Tuhan, hari ini negatif bener deh. Enggak sih, sebenernya sejak kemarin, sejak dementor mulai memborbardir lagi terornya sama gue, sejak itu dementor dapet nomer henpon gue dari cak-cak bodas. Blah!
Gimme gimme more power please! Rainbow power-nya peaddle pop juga lumayan lah.
*kantor, friday-free-time
Sunday, August 11, 2013
Papa
Pernah gak ngerasa envy sama hidupnya orang lain?
Yes, I did. Aku selalu ingin memiliki keluarga yang utuh, dimana masih ada Papa dan Mama. Aku selalu ingin ada orang yang khawatir ketika aku pulang terlambat bahkan ketika aku tidak pulang. Tapi ya sudahlah, kehidupan harus terus berjalan kan?
Setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyayangi seseorang. Itu yang aku yakini sampai sekarang, aku percaya Papa juga punya caranya sendiri. Lately I knew, ternyata Papa sudah lama sakit. Hallo Novia, where have you been before? Kemana aja kamu selama ini? Baru tau kalau Papanya sakit?! Well, I felt so selfish, so ignorant.
Faktanya, lebih baik mensyukuri apa yang sudah kau miliki ketimbang selalu mengeluhkan hal-hal lain. Well, usiaku sudah genap 20 bla bla bla (hahaha sudah terlalu tua) tapi sampai saat ini aku belum bisa membalas semua usaha Papa, apa yang beliau perjuangkan untukku sejak aku kecil.
Ada beberapa momen masa kecil yang masih melekat, salah satunya ketika aku datang ke kantor Papa di daerah Setiabudhi, dulu aku bercita-cita ingin bekerja di pertambangan juga. Entah kenapa, mungkin karena aku sering ditinggal Papa pergi ke luar kota bahkan ke luar pulau. Pernah satu waktu aku memaksa ikut Papa keluar kota, waktu itu aku merengek ikut Papa ke Banten. Papa baru saja pulang dari Palembang kala itu. Akhirnya aku pergi, teringat jelas aku sangat bahagia kala itu, kami naik bus dari Terminal Leuwipanjang Bandung menuju Pelabuhan Merak. Kemudian tak banyak lagi yang aku ingat, seingatku sesampainya disana kami transit di rumah kerabat Papa dan aku merengek lagi mengajak Papa main ke pantai. Papa membawaku ke pantai yang pasirnya hitam, disana banyak kapal-kapal besar dan bahkan banyak sekali sampah disana, ah mungkin itu pelabuhan. Ketika aku masih kelas 3 SD, umurku sekitar 9 tahun, aku ditinggal Papa, Mama dan Adikku ke Banjarmasin. Aku tinggal bersama nenek dan kakek, sejak saat itu aku mulai belajar hidup mandiri. Aku melakukan pekerjaan rumah yang biasa mama kerjakan, aku mencuci sendiri pakaianku, aku menyetrika, aku mencuci piring dan aku menulis surat juga kepada mereka.
Papa juga yang mengajarkan aku mencintai alam, dulu kami sering main-main ke Taman Hutan Raya Djuanda, dan aku berpendapat Papa tidak boleh melarangku naik gunung karena dulu Papa yang mengenalkan aku kepada indahnya alam ini :)
Aku juga sering diajak Papa memancing, ya memancing memang hobi Papa sampai sekarang. Pernah aku dan Papa memancing, kemudian Papa mendapatkan seekor ikan mas yang bentuknya berbeda dari yang lain aku langsung meminta agar ikan itu dipelihara saja, jangan digoreng. Aku masih ingat ikan itu aku beri nama Buyung. Tapi Buyung tidak bertahan lama, beberapa hari kemudian ia mati.
Soal binatang, Papa memang mengajarkanku untuk tidak takut dengan binatang. Sejak kecil aku senang memelihara binatang, kucing memang yang terfavorit, kucing pertamaku namanya Melon. Kemudian aku memelihara kera kecil yang diberi nama Emon, dan yang paling keren aku pernah memelihara burung elang! Tapi itupun tidak berlangsung lama, burungnya kami lepas karena burung elang dilindungi pemerintah.
Pa, aku janji tidak lama lagi aku akan membuatmu bahagia, ya tentu saja dengan caraku sendiri. Aku akan membuatmu bangga. Tetap sehat ya pa, nanti kelak kau akan menjadi wali ketika aku menikah, kau akan menjadi Abah dari anak-anakku. Aku mencintaimu Pa, bagaimanapun keadaanmu saat ini :')
Monday, July 29, 2013
Febri Mayasari - Bidadari Tengil
Wednesday, July 24, 2013
Another Jobless Day in Office
Friday, July 19, 2013
Chasing Rainbow
... I could deny
But I'll never realise
I'm just chasing rainbow all the times...
Seperti layaknya orang-orang, aku pun menyukai pelangi. Fenomena langit lainnya yang indah, yang konon ketika pelangi muncul bidadari sedang mandi disana. Pelangi tak muncul setiap hari, tak seperti fajar atau senja, tak seperti pagi atau malam. Ia datang sehabis hujan, dan tak melulu sehabis hujan.
Pelangi itu seperti bonus, yang diharapkan setiap orang tapi ia misterius. Pelangi yang kuingat adalah pelangi yang kulihat sore itu di Jayagiri tiga tahun yang lalu. Pelangi yang muncul ketika hujan sudah membasahi hutan di Bandung Utara. Pelangi sore itu begitu aku ingat, karena aku sedang bersamanya.
Oke, sekian dan terimakasih. Tulisan ini cocoknya disimpan di draft kemudian entah kapan akan kuselesaikan tapi aku publish saja langsung, hahaha.
Sunday, April 21, 2013
Untuk Seseorang Yang Sekarang Sangat Membeciku
Sekali lagi kawan, maafkan aku untuk akhir yang hancur ini dan terima kasih banyak untuk tiga tahun enam bulan itu. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, selalu berada di jalan-Nya...
Saturday, April 20, 2013
They Inspiring Me
Wednesday, April 17, 2013
Never Too Late To Be Better
Rabu ini begitu kelabu, hanya aku dan begitu banyak benda mati disini dan terpaksa harus berinteraksi dengan mereka. Ah, tapi mengeluh bukan jalan keluar, sama sekali bukan jalan keluar. Mengeluh itu negatif, karena kita nampak tidak mempunyai harapan atau akal untuk menyelesaikan sesuatu. Aku teringat ucapan seniorku dulu di MARCH, "jangan mengeluh sebelum lumpuh!". Kadang kata-kata itu yang membuatku lebih percaya diri untuk tetap kuat, karena dengan mengeluh tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali hal negatif...
Thursday, January 27, 2011
Hidup itu...
Andai saja, aku bisa sekuat beliau. Aku tak mampu mengulurkan tangan untuk membantunya, hanya sekedar doa yang bisa terucap untuk beliau. Segala doa terbaikku.
Semoga. Semoga saja semangatnya tertular padaku...
Thursday, January 20, 2011
Hari Yang Tak Ingin Kuulangi
aku marah karna aku bergantung pada makhluk yang mengaku bernama 'teman'.
aku marah.
aku kecewa.
karna ketika dunia pun tak mau berteman denganku, makhluk bernama 'teman' pun tak mau datang untukku.
aku lebih memilih berteman dengan layar-layar kaca yang tak hidup, papan-papan kunci yang tak hidup, dan juga tetikus yang tak hidup. mereka tidak akan lelah atau benci mendengar aku berkeluh.
aku benci tulisan ini, karna aku membutuhkan teman. a truly friend..
*Tuhan, jangan beri aku hari, waktu, perasaan, dan pikiran seperti seperti ini lagi.
Oh Dede..
Tuesday, January 18, 2011
Gimana Sih Cara Ngajar Anak Kelas 4 SD ?
A Journey to A Freedom
Kamis, 14 Agustus 2008
Sore itu, kereta ekonomi Kahuripan membawa kami menuju sebuah kota di tengah pulau Jawa, Jogjakarta. Melintasi temaramnya kota-kota di sepanjang pinggiran rel Kiaracondong – Jogjakarta, dan gelapnya hutan-hutan sepanjang perjalanan kami. Naik kereta ini memiliki kenikmatan tersendiri bagi kami, khususnya saya. Walaupun harus berdesak-desakkan dan saling berebut oksigen, tetapi saya menikmati perjalanan panjang ini. Perjalanan yang akan menghabiskan waktu 10 jam.
Tanpa komando dari siapapun, kami langsung mengatur carrier kami masing-masing. Tas-tas besar itu disimpan di lantai, sebagai alas kaki kami. Setiap orang mulai mem-plot tempatnya masing-masing, tempat duduk di samping jendela menjadi tempat favorit dan jadi bahan rebutan kami. Saya mendapat kehormatan untuk duduk di samping jendela, mereka bilang ini hadiah untuk perempuan satu-satunya dalam tim ini. Lucu sekali pikirku.
Semangat kami menggebu, membayangkan apa yang akan kami temui esok hari disana, di kota sebelah utara Jogjakarta. Sampai larut malam pun, kami masih bermain kartu, kadang mengobrol, kemudian bermain tebak-tebakkan yang aneh untuk menghangatkan suasana. Alhasil, tempat duduk kami menjadi tempat paling ramai malam itu, dimana penumpang yang lain sudah lelap dalam tidurnya menunggu perjalanan usai.
Jum’at, 15 Agustus 2008
Kami tiba di stasiun Tugu dengan muka yang lusuh tanda-tanda kurang tidur, semalam entah sampai jam berapa kami terbangun. Pagi itu sekitar pukul enam Indonesia bagian Jogjakarta, kami segera memburu mesjid stasiun untuk melakukan ritual pagi masing-masing.
Saya disambut oleh puluhan pasang mata yang memandang aneh dan bahasa yang tidak saya mengerti sama sekali. Saya tahu apa yang ada dalam pikiran mereka, mungkin lagi-lagi karena saya disini sendiri, seorang perempuan yang ikut dalam rombongan laki-laki. Ah, saya tak peduli. Taburkan saja senyum pada setiap orang yang melihatmu, kataku dalam hati.
Gunung Merbabu terletak di antara kota Jogjakarta, Magelang dan Salatiga. Kali ini kami memakai jalur pendakian Wekas yang berada dekat dengan kota Magelang. Kami akan meninggalkan Jogjakarta dengan menggunakan bus.
Matahari tepat berada diatas kepala kami, dan bus pun sampai di Magelang. Sebelum para Adam menunaikan shalat Jum’at, kami mengisi dulu perut yang kosong ini di terminal Tidar. Lidah pun harus segera menysuaikan dengan makanan yang tersedia di kota ini, yang rata-rata semuanya terasa manis. Sudah terisi nasi, perut saya masih menagih makanan lain. Untungnya di tempat kami beristirahat, ada tukang bubur kacang hijau yang sedang mangkal. Tak ada salahnya membeli, anggap saja dessert.
Ternyata penjual bubur itu sama-sama orang Sunda, ah dunia ini terasa sempit. Tapi saya kagum terhadap beliau, berani mencari nafkah dengan jarak yang cukup jauh dari keluarga dan kerabat di kampung halamannya, di Tasikmalaya. Semoga sukses, mang !
Perjalanan harus dilanjutkan, setelah menunaikan kewajiban terhadap Sang Maha Pencipta, kami menuju desa terakhir dengan menggunakan bus lagi, kali ini mini bus. Lagi-lagi perjalanan dengan menggunkan minibus ini membuat ceritanya sendiri, cerita yang menjadi pelengkap pengalaman saya kali ini.
Panorama indah, senyum ramah penduduk desa ini, tawa anak-anak dan cuaca yang sangat pas menyambut kedatangan kami di desa Wekas kali ini perjalanan menggunakan mesin sudah selesai, saatnya fisik dan mental kami lah yang harus kami gunakan dengan bijak.
Jalan terus menanjak, dengan batu-batu besar dan kerikil yang menjadi jalan kami menuju kaki gunung Merbabu. Tentramnya hutan pinus, kemudian hijaunya perkebunan warga yang didominasi oleh daun bawang dan wortel menjadi penyemangat tersendiri bagiku. Kabut sore yang perlahan turun dan kadang membatasi jarak pandang, sungguh nikmat Tuhan yang luar biasa.
Di perkampungan terakhir, kami menuju sebuah rumah yang juga merupakan pos pendakian. Kami harus melaporkan kepada petugas disana berapa lama kami akan mendaki, berapa jumlah tim kami, lewat jalur manakah kami akan pulang, dan tak lupa menyimpan salinan identitas kami disana. Kami pun ditawari pendamping, tapi kami tolak dengan alasan kami cukup memiliki pengetahuan tentang Merbabu dari sumber-sumber yang kami baca.
Karena hari hamper gelap, kami melanjutkan perjalanan. Untungnya pos pertama cukup dekat, hanya dengan berjalan kaki sekitar satu jam. Tenda-tenda didirikan, perbekalan mulai diolah untuk makan malam kami. Malam pertama ini kami gunakan untuk beristirahat untuk persiapan hari esok yang lebih berat. Sebelum tidur kami tak lupa bersyukur atas perjalanan hari ini dan berdoa untuk perjalanan esok hari.
Sabtu, 16 Agustus 2008
Cahaya matahari yang menembus jari-jari daun pinus sampai ke tenda kami, membangunkan kami yang bertekad merayakan hari jadi Indonesia di puncak Merbabu. Semangat kami tak terkalahkan apapun. Tak lupa kami mengisi energy dan melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.
Target kami hari ini adalah sampai ke puncak Syarif, Merbabu dan membuat shelter disana. Perjalanan semakin berat dan menantang, beban yang saya bawa pun terasa sangat berat dan menghambat perjalanan. Ingin rasanya membuang saja beban itu, tapi dengan begitu saya pun sudah membuang hidup saya.
Langkah demi langkah tetap saya ayunkan. Kesabaran saya benar-benar diuji oleh Tuhan melalui alam ini.
Ketika saya beristirahat, saya dikejutkan oleh seorang ibu tua dengan beban diatas kepalanya berjalan tanpa mengeluh melewati kami. Saya bertanya dalam hati, hendak pergi kemanakah ibu tersebut? Apa yang beliau bawa dalam bakulnya?
Salah seorang teman saya bertanya pada beliau, dengan bahasa Jawanya yang pas-pasan. Beliau mengenalkan dirinya dengan bahasa Indonesia pas-pasan juga. Namanya Ibu Suparti . Ternyata Bu Suparti, hendak berjualan makanan bersama suaminya di pos II. Kami benar-benar tercengang dengan jawaban si ibu, semangat kami pun naik kembali. Kami mengikuti langkah ibu tersebut menuju pos II.
Sesampainya di pos II, sebuah shelter sederhana yang terbuat dari selembar terpal lusuh dan batang pohon kecil dengan seorang kakek yang sedang menyalakan api untuk memasak, meyakinkan diriku bahwa itulah warung milik ibu Suparti. Sambil beristirahat dan mengisi lagi perut yang kosong, kami mencoba berkomunikasi dengan mereka. Sayangnya si bapak tidak bias menggunakan bahasa Indonesia, sehingga kami hanya bisa berkomunikasi dengan si ibu saja. Ibu mengenalkan suaminya kepada kami, bapak Ngatmo namanya.
Menurut si ibu, setiap akhir minggu pos II ini memang selalu ramai oleh para pendaki ataupun orang-orang yang akan berkemah, apalagi momen agustus-an seperti ini. Ibu dan bapak menjual makanan ringan, minuman, dan juga mie instan.
Hati ini pun menjadi terenyuh melihat mereka, perjuangan mereka untuk hidup tidaklah mudah. Lalu mengapa selama ini saya tidak pernah bisa bersyukur atas apa yang saya miliki?
Semakin tinggi tanah yang kami tapaki, semakin jarang pula tanaman yang kami temui. Medan menjadi begitu sulit, pasir dan batu-batu kecil mulai mendominasi. Hanya beberapa cantigi saja yang kami lihat. Dan dua puncak Merbabu pun sudah terlihat.
Sumbing dan Sindoro terlihat dari sini, cantik. Awan putih yang bergerombol kadang tertiup angin menutup panorama ke arah pos II, ke tempat ibu dan bapak hebat tadi. Kami pun saling mengabadikan momen ini lewat foto untuk kenangan dan buah tangan keluarga kami. Masa yang akan dikenang.
Menu malam ini istimewa, karena kami berhasil mencapai puncak tepat waktu. Kami berkemah di puncak Syarif, tempat ini cukup aman untuk dijadikan tempat berkemah. Setelah kami mendirikan shelter kami, mulailah berdatangan pendaki lain. Mereka akan mengadakan upacara memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia.
Sabtu, 17 Agustus 2008
Hari ini Indonesia tepat berusia 63 tahun. Kalau saja dulu para pahlawan tidak berjuang merebut kemerdekaan bangsa ini, kami tidak mungkin berdiri disini. Di puncak gunung Merbabu. Dan kalau saja Kartini pada saat itu tidak memperjuangkan hak-hak perempuan, saya tidak akan ada disini, berdiri bersama mereka. Mendaki gunung, menapaki puncak-puncak tertinggi. Saya mungkin akan berada di rumah, entah itu sedang memasak atau mengurus rumah tangga.
Pagi itu juga, setelah upacara kami segera turun. Kami lewat jalur Selo, dekat Boyolali. Merapi yang gagah mengeluarkan asap kuning, berdiri tegak namun seakan melambaikan tangannya agar saya menghampirinya. Ah Merapi, kau menggodaku.
Sampailah kami di stasiun Purwosari, Jawa Tengah. Menunggu kereta yang akan membawa kami pulang.
Tantangan tidak berhenti ketika saya sudah mendapatkan puncak, tantangan yang sebenarnya ada di bawah sana. Tantangan yang sesungguhnya, tantangan kehidupan, tentang bagaimana manusia menyikapi kehidupan yang sudah Tuhan anugerahkan kepada mereka. Berjuang atau menyerah, bergerak atau diam.
Terimakasih pahlawan, berkat jasamu kami menjadi manusia yang bebas. Bebas menikmati kekayaan tanah air dengan bijaksana, mencumbui setiap sentimeter alam Indonesia.
Syukur yang sangat dalam saya panjatkan untuk Sang Maha Pencipta. Terimakasih yang besar untuk tanah air Indonesia. Merdeka !!



