Tuesday, December 17, 2013

My First Long Distance Cycling Experience (judulnya kayak tugas anak kelas 4 SD gak sih?)

Tanggal 8 November malam terasa seperti malam takbiran, aku tidak bisa tidur! Tak sabar menunggu hari besok, hari perdana bersepeda jarak jauh dan kami berencana berangkat dari kampus jam 5 subuh.
Pagi itu kokokan ayam di alarm handphone cukup membuatku terkejut, aku terlambat bangun karena semalam tidak bisa tidur. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga, dengan tergesa-gesa aku berjalan meninggalkan kosanku menuju kampus.
Sesampainya di kampus ternyata sepeda belum selesai disetting, karena ternyata semalam sepeda dipinjam sampai jam 2 malam. Aku semakin gugup karena hari semakin siang, rencana berangkat jam 5 subuh pun gagal.
Tepat pukul 07.00 kami, aku dan sangke bertolak dari kampus UPI menuju titik kumpul para Federalis Bandung, perempatan Buah Batu – Soetta. Aku berdoa semoga perjalanan bersepeda jarak jauh pertamaku berjalan lancar dan juga berdoa semoga aku tidak ditinggal oleh kelompok lain.
Belum terlalu jauh dari kampus, setang sepedaku longgar, karena jalanan terus menerus menurun setang semakin tak nyaman. Setang butterflyku terus menerus menukik ke bawah membuat aku gugup dan takut. Kami tidak membawa kunci-kunci untuk mensetting ulang, beruntung di Cihampelas kami disapa bapak Federalis yang juga hendak menuju Gunung Puntang, akhirnya setang sepedaku bisa diatur ulang. Kami pun bersama-sama menuju titik berkumpul, perempatan Buah Batu – Soetta.
Ternyata kurang dari 45 menit kami sudah sampai di titik berkumpul, aku kira sudah terlambat dan ditinggal rombongan yang lain. Ternyata disana masih ada beberapa orang yang masih menunggu, lega karena seniorku pun ternyata belum tiba di lokasi. Seminggu kemarin aku memang sudah meminta agar aku bisa ikut dengan rombongan seniorku.
15 menit menunggu akhirnya beliau datang dan kami pun bertolak menuju Gunung Puntang, aku gugup, takut tapi juga senang. Walau sepedaku dan sepeda sangke yang paling sederhana, tanpa aksesoris seperti pesepeda lainnya dan packing-an barang kami yang seadanya tapi kami menikmati perjalanan bersama sepeda-sepeda keren lainnya.
Di daerah Baleendah rombongan kami berhenti untuk sarapan, sangke tertinggal di belakang karena barang yang kami packing paburisat (baca: berantakan). Aku merasa bersalah karena menggenjot sepeda terlalu cepat dan meninggalkan dia di belakang. Tapi tidak lama akhirnya sangke datang, aku bersyukur ternyata jarak kami tidak terlalu jauh. Selesai sarapan kami kemudian mempacking ulang, teman-teman rombongan seniorku meminjamkan beberapa tali untuk lebih menguatkan ikatan.
Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan yang masih lumayan jauh. Rutenya menuju pasar Banjaran dan kemudian menuju Cimaung untuk selanjutnya ke titik akhir Gunung Puntang. Trek datar hanya kutemui sampai pasar Banjaran, mulai dari Cimaung jalanan sudah mulai menanjak. Aku kayuh sepedaku sambil berkata pada diri sendiri, “ini sama halnya seperti naik gunung nov, kamu harus tetap tabah!”
Kali ini aku yang ditinggal sangke, padahal sepeda yang aku pakai speednya lebih banyak darinya, bebanku juga lebih ringan. Kesabaran benar-benar diuji, hari yang semakin siang, matahari semakin naik dan asap kendaraan yang mengepul terkadang membuatku ingin berhenti.
Setibanya di persimpangan menuju Gunung Puntang sudah banyak pesepeda lain, dan ini lebih keren lagi mungkin sekitar 50 sepeda terparkir di pinggir jalan, pemandangan yang keren bagiku. Sepeda-sepeda dan pemiliknya tersebar di beberapa titik. Sambil menunggu pesepeda yang belum datang aku dan sangke melengkapi perbekalan yang kami bawa, kami membeli bahan untuk membuat sambal  dan juga beberapa sayuran.
Seorang bapak yang mungkin koordinator atau panitia dari acara ini kemudian memberi komando kepada para pesepeda  untuk segera melanjutkan perjalanan menuju camp di Gunung Puntang. Kami semua serentak bersiap-siap untuk mengayuh sepeda dan melahap tanjakan yang akan ditemui. Ini bukan kali pertamanya aku ke Gunung Puntang, sedikit banyaknya aku sudah hafal bagaimana perkemahan Gunung Puntang dan jalan menuju kesana. Jarak yang harus ditempuh mungkin sekitar 9 km dari persimpangan tadi dan terus menanjak. Kucatat kami berhenti untuk istirahat sampai 3x, dan yang terakhir adalah yang paling menggelikan.
Ketika melewati bumi perkemahan Pramuka, kebetulan sedang diselenggarakan Persami Pramuka di tingkat SD, aku berhenti karena tergoda untuk membeli cingcau. Ternyata bukan aku saja yang berhenti dan tergoda oleh cingcau itu, hampir semua anggota rombongan seniorku berhenti termasuk seniorku. Ya, aku lupa mengenalkan beliau, aku menyebutnya Kang Kelik tapi rombongannya memanggil beliau Komandan, mungkin karena beliau yang paling tua. Setelah semua selesai menyantap cingcau, Kang Kelik menghampiri pedagang cingcau bersamaan dengannya seorang anak pramuka dari buper tersebut dan dengan polosnya si anak malah memberikan uang kepada Kang Kelik mungkin ia pikir Kang Kelik adalah penjual cingcau tersebut, sontak kami semua tertawa geli menertawakan beliau. Dengan muka yang memerah buru-buru Kang Kelik mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan, mungkin beliau malu karena kami tertawakan.
Setelah kulahap cingcau yang menyegarkan itu, kugenjot lagi sepeda dengan semangat dan harapan bahwa camp sudah semakin dekat. Matahari semakin naik karena waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 dan aku masih belum sampai. Aku tidak akan menyerah, aku tahu nanti semuanya akan terbayar diatas sana. Sekarang aku yang memimpin, sangke tertinggal di belakang, mungkin karena sepeda dan bebannya yang berat.
Sesampainnya di pintu masuk Gunung Puntang, aku dan sangke tidak langsung menuju camp. Kami mampir sebentar di PGPI (Persaudaraan Gunung Puntang Indonesia), menjumpai teman yang sebelumnya sudah kami beritahu akan kedatangan kami. Sambil mengisi baterai handphone yang kosong kami sholat dzuhur kemudian dijamu makan siang ala kadarnya. Rombongan yang lain sudah menuju camp.  Setelah mengobrol cukup lama, pukul 13.00 kami melanjutkan perjalanan menuju camp. Kali ini treknya berbatu, bukan lagi aspal, dan aku tidak sanggup menggenjot sepeda di jalanan menanjak nan berbatu itu. Kutuntun saja sepedaku sampai tiba di camp.
Suasana di sekitar camp cukup ramai, ada kelompok pramuka dan ada juga mahasiswa dari Jurusan Kimia Unjani Cimahi yang sedang mengospek mahasiswa barunya. Tenda-tenda sudah mulai berdiri, aku yang tidak membawa shelter karena sebelumnya sudah meminta ijin untuk nebeng dengan seniorku mulai membantu mendirikan tenda dan memasang flysheet. Rasanya sudah lama sekali aku tidak camping, dan kali ini benar-benar berbeda. Aku menuju tempat camp dengan bersepeda!
Selain ngobrol ngalor ngidul dan sharing seputar sepeda dan touring, kegiatan kami hanyalah memasak dan makan. Ketika malam datang api unggun mulai dibuat, ada beberapa tenda yang terdengar penghuninya sudah mendengkur karena tidur pulas dan ada juga beberapa tenda yang masih ramai mengobrol. Aku sendiri memutuskan untuk beristirahat, beruntung ada Ibu Lisa, atlit sepeda uphill yang dengan baik hati menawarkan untuk tidur di tendanya.
Keesokan paginya setelah semua peserta menyantap sarapannya masing-masing, ada materi Pertolongan Gawat Darurat yang diberikan oleh pemateri dari PMI Banjar. Dilanjutkan dengan perkenalan dan pembagian doorprize, ini acara puncaknya karena doorprize yang cukup banyak sudah dinantikan oleh para peserta. Sebelum pembagian doorprize kami dipersilakan untuk memperkenalkan diri terlebih dahulu. Kebanyakan peserta didominasi oleh laki-laki, perempuan yang ikut bersepeda hanya aku dan Bu Lisa.  
Ngomong-ngomong soal doorprize jujur aku berharap bisa mendapatkan rak atau tas pannier, lumayan untuk membawa barang bawaan kami pulang ke Bandung. Sebagai  perwakilan peserta perempuan, aku didahulukan untuk mengambil nomor undian. Bismillah, aku ambil satu gulungan kertas kecil itu dan begitu kubuka nomor enam tertulis di kertas itu. Aku celingukan mencocokan dengan doorprize yang diletakkan diatas terpal, dan aku mendapatkan sebuah celana PDL, Alhamdulillah ukurannya pun cocok J. Berbeda denganku yang mendapat kesempatan khusus, sangke harus mengantri untuk mendapatkan nomor undian dan ia berhasil mendapatkan doorprize berupa cover sepeda, Alhamdulillah lumayan J.
Sebelum matahari semakin naik, kami mulai membongkar tenda-tenda dan mempacking semua barang ke sepeda. Perjalanan berat lainnya menungguku, perjalanan pulang menuju jalan Setiabudhi yang menanjak. Aku menaksir kami akan tiba di kampus pukul enam sore, tepat ketika Maghrib berkumandang.


Thursday, October 31, 2013

Aku Ingin Pulang

Aku ingin pulang, dengan perjalanan menggunakan bus atau kereta api kemudian duduk di sisi jendela sembari melihat sudut-sudut bumi yang terlewati.
Aku ingin pulang, mencari jawaban diantara panasnya pagi dan basahnya siang di bulan November.
Aku ingin pulang, mencari-cari kepingan jawaban yang tak kutemukan diantara tumpukan batu bata berbentuk persegi.
Aku ingin pulang, menyelami dalamnya samudera yang gelap, mencumbui setiap gelombangnya.
Aku ingin pulang, membebani pundak dengan alat-alat bertahan hidup menuju ke ketinggian, lebih dekat dengan Sang Pencipta.
dan pada akhirnya aku hanya ingin mendengarkan nasehat seorang ayah, usapan di punggung oleh seorang ibu, celoteh adik dan senyum kakek nenekku.
Aku ingin pulang.

Friday, September 27, 2013

Ketika Setan Lebay Jadi Teman

Lagi ngerasa sendiri banget.
Lagi pengen pulang, tapi gak tau harus kemana...

Akhir-akhir ini gue ngerasa cuma jadi beban buat orang-orang di sekitar gue. Iya, gue cuma nyusahin mereka. Padahal gue bukan siapa-siapa. 
Gue bukan siapa-siapa. Gue bukan siapa-siapanya siapa. Gue gak punya siapa-siapa.

Setan lebay ini lagi seneng banget deket-deket gue. Taik lo! 
Gue pengen pulang tapi gak tau harus kemana. Balik lagi, gue adalah bukan siapa-siapanya siapa. Gue gak punya siapa-siapa.

Wednesday, August 28, 2013

Bayi Sebelas Hari

Malam ini dingin banget, bulan Agustus, musim kemarau, jam 00:40. Sebelumnya gak pernah niat buat begadang malam ini, tapi sms yang masuk setelah maghrib tadi bikin gue kayak gini.

Enam belas bulan yang lalu, tepatnya 9 April 2012 dua bayi ini lahir dengan empat saudaranya yang lain. Si bungsu aku beri nama Timmy, sedangkan si nomor dua ini aku beri nama Black. Tanggal 19 April 2012, ketika umur mereka masih 10 hari mereka harus ditinggalkan induknya. Peristiwa yang tidak pernah akan aku lupa, Bilbil si ibu sudah kaku ditemukan di atap rumah dan sampai sekarang aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Bilbil. Rasanya pasti sedih, hewan peliharaan yang kamu rawat dengan baik tiba-tiba sudah ditemukan tidak bernyawa, ditambah dia meninggalkan enam ekor anaknya yang masih berumur 10 hari.

Sejak saat itu, akhirnya aku memutuskan untuk tetap merawat si bayi-bayi ini. Aku menjadi pengganti Bilbil, ya karena aku harus memberi mereka susu. Sama halnya dengan bayi manusia, bayi kucing pun membutuhkan ASI untuk pertumbuhan mereka, bedanya bayi kucing hanya sampai umur 2 bulan. Hari pertama aku beri mereka susu khusus untuk kucing, cukup sulit untuk membiasakan mereka minum dari dot. Hari berikutnya aku ganti dengan susu SGM khusus untuk bayi baru lahir, sampai usia mereka 2 bulan.  Setiap dua jam sekali aku harus mengganti susu mereka dengan yang baru, aku rebus dot-dot mereka, setiap jam 2 pagi ketika mereka terbangun karena lapar aku pun terbangun dan langsung menyusui mereka, begitu seterusnya setiap dua jam sekali. Aku menikmati masa-masa itu, rasanya seperti punya bayi.

Sekarang, bayi-bayi ini sudah berumur 16 bulan dan aku harus ikhlas melepaskan mereka. Bukan, bukan karena aku sudah tidak menyayangi mereka lagi. Ini keputusan yang paling berat yang pernah aku ambil, sebuah keputusan yang mengalahkan ego diri. Aku mencintai mereka, mencintai mereka melebihi apapun.

Timmy, kucing betina bewarna putih kotor ini dulu kondisinya sangat memprihatinkan. Badannya kecil, bulu-bulunya rontok sampai ada beberapa bagian tubuhnya yang membotak. Kucing yang selalu menyendiri. Namun, ketika beranjak besar bulu-bulunya tumbuh lebat, jadi kucing yang cantik dengan mata berwarna biru muda. Porsi makannya juga paling banyak, paling pertama antri kalau aku sedang menyiapkan makan mereka.
Timmy, besok-besok gak bakal ada yang iseng colek-colek kaki orang yang lewat pake kukunya. Timmy cantik, aku pasti bakal kangen banget sama kamu. Kangen kamu yang rakus, kangen kamu yang sombong, gak mau disisir.


Black, kucing yang paling tengil. Waktu bayi paling galak, karena kalau lagi disusuin dia yang paling sering nyakarin sodara-sodaranya demi berebut dot. Kucing dengan mata bulatnya yang kepo, mata yang selalu membesar kalau lagi kaget. Kucing yang paling sering bersuara, paling sering request dielusin sambil guling-guling di lantai.
 Ah Black, besok aku gak akan nemuin kamu lagi nongkrong di balkon sambil liat ke bawah. Aku gak bakal denger suara protes kamu kalau aku telat kasih makan. Black, aku sayang kamu, maafin aku ya Black kalo akhirnya kita gak bisa sama-sama lagi.


Aku sayang kalian berdua, maafin aku karena kondisi aku sekarang aku gak bisa bareng kalian lagi. Semoga orang tua kalian yang baru lebih sayang ya sama kalian. I love you two, and I'll be missing you all the times...

  *balkon rumah, ditemani Black dan mata berair sebesar jengkol

Thursday, August 22, 2013

J.E.A.L.O.U.S

Rasa-rasanya pengen nyebur aja ke laut, yeah berhubung Bandung jauh dari laut kolam renang juga gapapa deh. Kolam renang 10 meter, nyebur ke dasar kolam terus muncul-muncul kepala udah dingin hati juga udah dingin. Atau aku boleh minta sama Tuhan supaya Dago Pojok hari ini bersalju? Eugghhhh aku kesal, gak suka sama kamu!
Iya kamu, kamu dan kamu!
Kalo pengen tau kenapa itu kamunya ada tiga? Iya itu "kamu" yang satu didedikasiin buat temen kompor gue, yang senantiasa kasih gue nasehat super bijak tapi bikin mata berair! Fakkkk!
"Kamu" yang dua ya silakan berasumsi aja elo siapa!
Oh Tuhan, hari ini negatif bener deh. Enggak sih, sebenernya sejak kemarin, sejak dementor mulai memborbardir lagi terornya sama gue, sejak itu dementor dapet nomer henpon gue dari cak-cak bodas. Blah!
Gimme gimme more power please! Rainbow power-nya peaddle pop juga lumayan lah.

*kantor, friday-free-time


Sunday, August 11, 2013

Papa

Pernah gak ngerasa pengen banget sama hidupnya orang lain?
Pernah gak ngerasa envy sama hidupnya orang lain?

Yes, I did. Aku selalu ingin memiliki keluarga yang utuh, dimana masih ada Papa dan Mama. Aku selalu ingin ada orang yang khawatir ketika aku pulang terlambat bahkan ketika aku tidak pulang. Tapi ya sudahlah, kehidupan harus terus berjalan kan?

Setiap orang punya caranya masing-masing untuk menyayangi seseorang. Itu yang aku yakini sampai sekarang, aku percaya Papa juga punya caranya sendiri. Lately I knew, ternyata Papa sudah lama sakit. Hallo Novia, where have you been before? Kemana aja kamu selama ini? Baru tau kalau Papanya sakit?! Well, I felt so selfish, so ignorant.

Faktanya, lebih baik mensyukuri apa yang sudah kau miliki ketimbang selalu mengeluhkan hal-hal lain. Well, usiaku sudah genap 20 bla bla bla (hahaha sudah terlalu tua) tapi sampai saat ini aku belum bisa membalas semua usaha Papa, apa yang beliau perjuangkan untukku sejak aku kecil.

Ada beberapa momen masa kecil yang masih melekat, salah satunya ketika aku datang ke kantor Papa di daerah Setiabudhi, dulu aku bercita-cita ingin bekerja di pertambangan juga. Entah kenapa, mungkin karena aku sering ditinggal Papa pergi ke luar kota bahkan ke luar pulau. Pernah satu waktu aku memaksa ikut Papa keluar kota, waktu itu aku merengek ikut Papa ke Banten. Papa baru saja pulang dari Palembang kala itu. Akhirnya aku pergi, teringat jelas aku sangat bahagia kala itu, kami naik bus dari Terminal Leuwipanjang Bandung menuju Pelabuhan Merak. Kemudian tak banyak lagi yang aku ingat, seingatku sesampainya disana kami transit di rumah kerabat Papa dan aku merengek lagi mengajak Papa main ke pantai. Papa membawaku ke pantai yang pasirnya hitam, disana banyak kapal-kapal besar dan bahkan banyak sekali sampah disana, ah mungkin itu pelabuhan. Ketika aku masih kelas 3 SD, umurku sekitar 9 tahun, aku ditinggal Papa, Mama dan Adikku ke Banjarmasin. Aku tinggal bersama nenek dan kakek, sejak saat itu aku mulai belajar hidup mandiri. Aku melakukan pekerjaan rumah yang biasa mama kerjakan, aku mencuci sendiri pakaianku, aku menyetrika, aku mencuci piring dan aku menulis surat juga kepada mereka.

Papa juga yang mengajarkan aku mencintai alam, dulu kami sering main-main ke Taman Hutan Raya Djuanda, dan aku berpendapat Papa tidak boleh melarangku naik gunung karena dulu Papa yang mengenalkan aku kepada indahnya alam ini :)
Aku juga sering diajak Papa memancing, ya memancing memang hobi Papa sampai sekarang. Pernah aku dan Papa memancing, kemudian Papa mendapatkan seekor ikan mas yang bentuknya berbeda dari yang lain aku langsung meminta agar ikan itu dipelihara saja, jangan digoreng. Aku masih ingat ikan itu aku beri nama Buyung. Tapi Buyung tidak bertahan lama, beberapa hari kemudian ia mati.
Soal binatang, Papa memang mengajarkanku untuk tidak takut dengan binatang. Sejak kecil aku senang memelihara binatang, kucing memang yang terfavorit, kucing pertamaku namanya Melon. Kemudian aku memelihara kera kecil yang diberi nama Emon, dan yang paling keren aku pernah memelihara burung elang! Tapi itupun tidak berlangsung lama, burungnya kami lepas karena burung elang dilindungi pemerintah.

Pa, aku janji tidak lama lagi aku akan membuatmu bahagia, ya tentu saja dengan caraku sendiri. Aku akan membuatmu bangga. Tetap sehat ya pa, nanti kelak kau akan menjadi wali ketika aku menikah, kau akan menjadi Abah dari anak-anakku. Aku mencintaimu Pa, bagaimanapun keadaanmu saat ini :')

Monday, July 29, 2013

Febri Mayasari - Bidadari Tengil

Tiga hari yang lalu aku kehilangan salah satu sahabat terbaik, Tuhan menyayanginya sehingga Dia memanggilnya begitu cepat.

     Sore itu, ketika aku hendak mengambil air wudhu, teman sekantorku yang juga sahabat paling dekat denganku memberikan kabar duka itu. Aku benar-benar tidak mempercayainya, sontak aku langsung melihat phonebook di handphoneku kemudian mulai mendial Febri Maya. Benar saja, nomor yang aku hubungi tidak menjawab, dialihkan ke voicemail. Aku tidak menyerah, langsung kubuka whatsapp dan kulihat statusnya” last seen 00:40” itu artinya whatsapp tersebut terakhir aktif jam 1 subuh hari itu. Ada apa ini sebenarnya? Kemudian kubuka profilenya, “L how r u????” siapa yang dia maksud disini? Tuhan, aku sungguh tidak percaya semua ini. Kabar mengenai hal ini terus berdatangan dari teman-temanku. Aku mencoba mencari kontak Vitri, kakak perempuan Maya,  kubuka akun facebooknya tapi tak ada informasi yang kucari. Oh Maya, apa yang terjadi denganmu? Baru saja beberapa minggu yang lalu aku menanyakan info lowongan kerja. Kenapa kamu tidak memberitahuku May?
     Sembilan tahun yang lalu, ingatkah kamu May? Hari itu hari Valentine, ya aku masih merayakan hari itu. Aku, kamu dan si oneng Ayu berdandan spesial dengan kado untuk orang spesial kita masing-masing. Aku punya buku Kahlil Gibran yang sudah kubungkus cantik untuk kecenganku selama SMP, kamu punya apa ya May? Aku lupa. Aku benar-benar bukan teman yang baik~Si oneng Ayu punya kado spesial buat si Oot Sukma Toshar kecengan abadinya. Lucu sekali kita waktu itu, anak kelas satu SMA :D . Dua tahun juga kita selalu naik angkot yang sama, Kalapa-Ledeng, disitulah kita saling berbagi cerita. Entah sudah berapa kata, kalimat dan paragraf yang kita tuangkan antara Karapitan sampai Cipaganti. Sering kamu sengaja naik angkot dulu ke rumahku supaya kita bisa berangkat sekolah bareng. Waktu aku ulang tahun kamu kasih aku kaset Blink 182, I was so happy may. I’ll always remember that May, always. May , May kenapa pergi begitu cepat? Kenapa gak kasih tau aku May?
     Nanti kalau aku rindu, akan kutitipkan rindu ini dalam sebuah doa ya May, semoga kamu berada di surga dengan bidadari-bidadari. I love you, Febri Mayasari (23 Februari 1988 - 26 Juli 2013).

Wednesday, July 24, 2013

Another Jobless Day in Office

Huaaaa hari ini bener-bener membosankan, dimulai dari kemaren malem udah kesel karena selalu di-under estimate-in sama pacar, diharkosin sama waktu -____-"
Pulang ke rumah makan gak selera, akhirnya tidur dengan kekecewaan tapi tetep niat puasa buat besoknya.

... jam tiga alarm handphone bunyi, kebangun dan sadar udah waktunya sahur tapi mengingat menu sahur yang gak bikin selera ditambah masih kesel sama si pacar akhirnya tadi subuh gak sahur dan lanjut sare lagi. Dan udah aja gak ada semangat buat ngapa-ngapain, bahkan buat bangun trus pergi kerja.

Mau ngerjain apa di kantor? Gak ada kerjaan, oke kecuali anak IPB udah kirim surat dan proposalnya. Akhirnya mandi dan pergi ke kantor dengan keyakinan surat dan proposal udah ada di inbox e-mail. Penderitaan belum berakhir ketika temen sekantor udah bawel nanyain posisi udah dimana? Zzzz terpaksa kan harus naek ojeg biar cepet, anyway thank you beb, you always inspiring me no matter how it was.

Buka inbox e-mail dan jenjreng gak ada yang baru, oh betapa nestapanya hari ini. Sama halnya dengan si temen kantor yang semangatnya udah pergi entah sejak kapan, sejak abang warung sebelah menghilang. Rumornya si abang pulang ke Aceh dan cuti buat nikah, oh mimpi punya mini market kayak Haji Muhidin bersama orang Aceh pupus sudah. Akhirnya tiap hari dia dateng ke kantor dengan muka lusuh mirip Harry Potter udah ketemu sama dementor. 

Well, ini penampakan ke-jobless-an hari ini.



Friday, July 19, 2013

Chasing Rainbow

Ya, ketika tulisan ini dibuat lagu pengiringnya memang Chasing Rainbow-nya Shed Seven. That's why I put Chasing Rainbow as a title.

... I could deny
But I'll never realise
I'm just chasing rainbow all the times...

Seperti layaknya orang-orang, aku pun menyukai pelangi. Fenomena langit lainnya yang indah, yang konon ketika pelangi muncul bidadari sedang mandi disana. Pelangi tak muncul setiap hari, tak seperti fajar atau senja, tak seperti pagi atau malam. Ia datang sehabis hujan, dan tak melulu sehabis hujan.
Pelangi itu seperti bonus, yang diharapkan setiap orang tapi ia misterius. Pelangi yang kuingat adalah pelangi yang kulihat sore itu di Jayagiri tiga tahun yang lalu. Pelangi yang muncul ketika hujan sudah membasahi hutan di Bandung Utara. Pelangi sore itu begitu aku ingat, karena aku sedang bersamanya.
Oke, sekian dan terimakasih. Tulisan ini cocoknya disimpan di draft kemudian entah kapan akan kuselesaikan tapi aku publish saja langsung, hahaha.

Sunday, April 21, 2013

Untuk Seseorang Yang Sekarang Sangat Membeciku

     Aku tahu kata maaf takkan mampu mengobati rasa sakitmu yang sangat dalam, lalu aku harus bagaimana lagi? Aku pun tak pernah menginginkan akhir yang seperti ini, saling melukai satu sama lain. Disadari atau tidak, kita pernah saling mencintai kawan, kita pernah saling menyayangi, kita pernah saling mendukung dan kita pernah saling berjanji. Aku akan berusaha menunggu, berusaha untuk sabar, sampai di waktu kau mau benar-benar memaafkanku.
     Sekali lagi kawan, maafkan aku untuk akhir yang hancur ini dan terima kasih banyak untuk tiga tahun enam bulan itu. Semoga kita selalu dalam lindungan-Nya, selalu berada di jalan-Nya...

Saturday, April 20, 2013

They Inspiring Me

"berhenti mengukur masalah, mulailah membangun langkah"
     Pertama kali lihat iklan brand rokok di salah satu jalan di kota Bandung itu aku langsung jatuh cinta, sangat setuju dengan pesan yang disampaikan. Hey, mau sampai kapan kamu mengukur masalahmu? Memikirkannya sampai kamu melailaikan yang lain? Bukan waktunya lagi membanding-bandingkan masalah yang kamu punya dengan masalah orang lain atau dengan kemampuanmu sendiri. Saatnya kamu bergerak untuk menentukan langkah. Mengambil langkah untuk menyelesaikan masalah. Percaya, Tuhan tidak akan memberikan kesulitan diluar batas kemampuan manusia. 
     Well, seseorang pernah mengirimkan sebuah quote ketika aku mengeluh kepadanya, "don't tell me it can't be done, Winston Churchill". Begitu bunyi sms-nya, dan seketika sms itu menjadi sebuah power untukku. Did you remember that, kang? Hehehe :) 
     Dua bulan kemarin aku berkenalan dengan seorang gadis, ya akhirnya aku berjumpa juga dengannya. Jujur, sebelum aku resmi berkenalan dengannya aku sempat menjadi pengikutnya, tentu saja di media sosial, ini menyangkut perasaan. Pertemuan yang singkat memang sehingga akupun tidak mengenalnya terlalu jauh, waktu dan perasaan yang membuatku tidak bisa mengenalnya lebih dekat. Dia cantik, muda, ramah, menyenangkan dan juga pintar. Itu hal yang membuatku mengaguminya, dan mungkin sedikit iri. Bagiku manusiawi. 
     Terkadang inspirasi bisa datang dimana saja, dari siapapun dia dan kapanpun itu. Sebuah lontaran kata-kata dan seseorang yang mungkin kita kenal atau tidak. Dan ya, dua orang lelaki yang kukenal selama hidupku. Terima kasih kepada kalian karena aku akan malu ketika merasa lemah.  Yes, you guys inspiring me!!


Wednesday, April 17, 2013

Never Too Late To Be Better

... tidak ada kata terlambat bagiku untuk menjadi lebih baik. Hidup ini semakin terasa bermakna ketika kita telah mengalami hal-hal yang biasa dan luar biasa. Hal-hal yang  aku yakin semua orang pernah mengalaminya dan juga menyelesaikannya. Ketika hidup terasa menjenuhkan karena kita hanya fokus pada satu bagian hidup, ketika kita tidak menyadari masih banyak hal yang harus kita pikirkan, kita lakukan dan kita selesaikan.
    Rabu ini begitu kelabu, hanya aku dan begitu banyak benda mati disini dan terpaksa harus berinteraksi dengan mereka. Ah, tapi mengeluh bukan jalan keluar, sama sekali bukan jalan keluar. Mengeluh itu negatif, karena kita nampak tidak mempunyai harapan atau akal untuk menyelesaikan sesuatu. Aku teringat ucapan seniorku dulu di MARCH, "jangan mengeluh sebelum lumpuh!". Kadang kata-kata itu yang membuatku lebih percaya diri untuk tetap kuat, karena dengan mengeluh tidak akan menghasilkan apa-apa kecuali hal negatif...


Thursday, January 27, 2011

Hidup itu...

     Tadi siang aku melihat seorang bapak tuna netra memanggul sapu lidi untuk dijualnya, tangan kanannya yang sudah keriput itu memegan tongkat sementara tangan kirinya terangkat menahan sapu lidi. Entah sudah berapa ribu kilometer jalan yang sudah beliau tapaki dengan kaki telanjangnya yang kuat. Ah, tapi kuyakin, hati dan tekadnya lebih kuat. Tekad untuk tetap bertahan hidup, yang semakin hari semakin tidak gampang.
    Andai saja, aku bisa sekuat beliau. Aku tak mampu mengulurkan tangan untuk membantunya, hanya sekedar doa yang bisa terucap untuk beliau. Segala doa terbaikku.
     Semoga. Semoga saja semangatnya tertular padaku...

Thursday, January 20, 2011

Hari Yang Tak Ingin Kuulangi

aku marah.
aku marah karna aku bergantung pada makhluk yang mengaku bernama 'teman'.
aku marah.
aku kecewa.
karna ketika dunia pun tak mau berteman denganku, makhluk bernama 'teman' pun tak mau datang untukku.
aku lebih memilih berteman dengan layar-layar kaca yang tak hidup, papan-papan kunci yang tak hidup, dan juga tetikus yang tak hidup. mereka tidak akan lelah atau benci mendengar aku berkeluh.

aku benci tulisan ini, karna aku membutuhkan teman. a truly friend..


*Tuhan, jangan beri aku hari, waktu, perasaan, dan pikiran seperti seperti ini lagi.

Oh Dede..

     Saya belum bisa dapetin hati Dede, hmmm gimana caranya yah? Kadang saya ingin menyelami pikirannya, mencari-cari dimana dia menyimpan saya dalam pikirannya. Apa yang dia pikirkan tentang saya?
Ah kamu de, saya harus segera memiliki hati kamu. Supaya hari-hari kita akan lebih berarti, bukan hanya sekedar menggugurkan kewajiban selama sembilan puluh menit.
     Just give me 'lil bit clue, and i'll get you :D

Tuesday, January 18, 2011

Gimana Sih Cara Ngajar Anak Kelas 4 SD ?

            Well, ini adalah kali pertama saya ngasih privat. Dan dapetlah anak kelas 4 SD ini, sama seperti kebanyakan anak yang lain. Dia suka banget main, dan kadang-kadang gak mau belajar. Mungkin karena belum berpengalaman, saya suka ngerasa stress sendiri. Gimana kalo saya gak bisa bikin prestasi anak ini jadi lebih baik?! Oh NO !!
            Dari pengamatan setelah dua kali pertemuan, anak ini termasuk anak yang cukup pintar. Dia bisa menyelesaikan tugas dari sekolahnya sendiri, walau kadang-kadang bertanya pada saya. Hal itu wajar. Mungkin karena dia bersekolah di sekolah bertaraf internasional, atau ada faktor lain. Ah, jadi harus buka buku kuliah lagi nih. Hehehe. Tapi dia juga manja, yah hal yang wajar juga untuk seorang anak kecil, apalagi dia berasal dari keluarga yang sangat mampu, yang "ini-itu" nya sudah disiapkan oleh pengasuhnya.
            So, gimana sih cara ngajar yang menyenangkan buat anak ini? Supaya dia enjoy belajar dan belajar buat gak manja.              

             

A Journey to A Freedom

Kamis, 14 Agustus 2008

Sore itu, kereta ekonomi Kahuripan membawa kami menuju sebuah kota di tengah pulau Jawa, Jogjakarta. Melintasi temaramnya kota-kota di sepanjang pinggiran rel Kiaracondong – Jogjakarta, dan gelapnya hutan-hutan sepanjang perjalanan kami. Naik kereta ini memiliki kenikmatan tersendiri bagi kami, khususnya saya. Walaupun harus berdesak-desakkan dan saling berebut oksigen, tetapi saya menikmati perjalanan panjang ini. Perjalanan yang akan menghabiskan waktu 10 jam.

Tanpa komando dari siapapun, kami langsung mengatur carrier kami masing-masing. Tas-tas besar itu disimpan di lantai, sebagai alas kaki kami. Setiap orang mulai mem-plot tempatnya masing-masing, tempat duduk di samping jendela menjadi tempat favorit dan jadi bahan rebutan kami. Saya mendapat kehormatan untuk duduk di samping jendela, mereka bilang ini hadiah untuk perempuan satu-satunya dalam tim ini. Lucu sekali pikirku.

Semangat kami menggebu, membayangkan apa yang akan kami temui esok hari disana, di kota sebelah utara Jogjakarta. Sampai larut malam pun, kami masih bermain kartu, kadang mengobrol, kemudian bermain tebak-tebakkan yang aneh untuk menghangatkan suasana. Alhasil, tempat duduk kami menjadi tempat paling ramai malam itu, dimana penumpang yang lain sudah lelap dalam tidurnya menunggu perjalanan usai.

Jum’at, 15 Agustus 2008

Kami tiba di stasiun Tugu dengan muka yang lusuh tanda-tanda kurang tidur, semalam entah sampai jam berapa kami terbangun. Pagi itu sekitar pukul enam Indonesia bagian Jogjakarta, kami segera memburu mesjid stasiun untuk melakukan ritual pagi masing-masing.

Saya disambut oleh puluhan pasang mata yang memandang aneh dan bahasa yang tidak saya mengerti sama sekali. Saya tahu apa yang ada dalam pikiran mereka, mungkin lagi-lagi karena saya disini sendiri, seorang perempuan yang ikut dalam rombongan laki-laki. Ah, saya tak peduli. Taburkan saja senyum pada setiap orang yang melihatmu, kataku dalam hati.

Gunung Merbabu terletak di antara kota Jogjakarta, Magelang dan Salatiga. Kali ini kami memakai jalur pendakian Wekas yang berada dekat dengan kota Magelang. Kami akan meninggalkan Jogjakarta dengan menggunakan bus.

Matahari tepat berada diatas kepala kami, dan bus pun sampai di Magelang. Sebelum para Adam menunaikan shalat Jum’at, kami mengisi dulu perut yang kosong ini di terminal Tidar. Lidah pun harus segera menysuaikan dengan makanan yang tersedia di kota ini, yang rata-rata semuanya terasa manis. Sudah terisi nasi, perut saya masih menagih makanan lain. Untungnya di tempat kami beristirahat, ada tukang bubur kacang hijau yang sedang mangkal. Tak ada salahnya membeli, anggap saja dessert.

Ternyata penjual bubur itu sama-sama orang Sunda, ah dunia ini terasa sempit. Tapi saya kagum terhadap beliau, berani mencari nafkah dengan jarak yang cukup jauh dari keluarga dan kerabat di kampung halamannya, di Tasikmalaya. Semoga sukses, mang !

Perjalanan harus dilanjutkan, setelah menunaikan kewajiban terhadap Sang Maha Pencipta, kami menuju desa terakhir dengan menggunakan bus lagi, kali ini mini bus. Lagi-lagi perjalanan dengan menggunkan minibus ini membuat ceritanya sendiri, cerita yang menjadi pelengkap pengalaman saya kali ini.

Panorama indah, senyum ramah penduduk desa ini, tawa anak-anak dan cuaca yang sangat pas menyambut kedatangan kami di desa Wekas kali ini perjalanan menggunakan mesin sudah selesai, saatnya fisik dan mental kami lah yang harus kami gunakan dengan bijak.

Jalan terus menanjak, dengan batu-batu besar dan kerikil yang menjadi jalan kami menuju kaki gunung Merbabu. Tentramnya hutan pinus, kemudian hijaunya perkebunan warga yang didominasi oleh daun bawang dan wortel menjadi penyemangat tersendiri bagiku. Kabut sore yang perlahan turun dan kadang membatasi jarak pandang, sungguh nikmat Tuhan yang luar biasa.

Di perkampungan terakhir, kami menuju sebuah rumah yang juga merupakan pos pendakian. Kami harus melaporkan kepada petugas disana berapa lama kami akan mendaki, berapa jumlah tim kami, lewat jalur manakah kami akan pulang, dan tak lupa menyimpan salinan identitas kami disana. Kami pun ditawari pendamping, tapi kami tolak dengan alasan kami cukup memiliki pengetahuan tentang Merbabu dari sumber-sumber yang kami baca.

Karena hari hamper gelap, kami melanjutkan perjalanan. Untungnya pos pertama cukup dekat, hanya dengan berjalan kaki sekitar satu jam. Tenda-tenda didirikan, perbekalan mulai diolah untuk makan malam kami. Malam pertama ini kami gunakan untuk beristirahat untuk persiapan hari esok yang lebih berat. Sebelum tidur kami tak lupa bersyukur atas perjalanan hari ini dan berdoa untuk perjalanan esok hari.

Sabtu, 16 Agustus 2008

Cahaya matahari yang menembus jari-jari daun pinus sampai ke tenda kami, membangunkan kami yang bertekad merayakan hari jadi Indonesia di puncak Merbabu. Semangat kami tak terkalahkan apapun. Tak lupa kami mengisi energy dan melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Target kami hari ini adalah sampai ke puncak Syarif, Merbabu dan membuat shelter disana. Perjalanan semakin berat dan menantang, beban yang saya bawa pun terasa sangat berat dan menghambat perjalanan. Ingin rasanya membuang saja beban itu, tapi dengan begitu saya pun sudah membuang hidup saya.

Langkah demi langkah tetap saya ayunkan. Kesabaran saya benar-benar diuji oleh Tuhan melalui alam ini.

Ketika saya beristirahat, saya dikejutkan oleh seorang ibu tua dengan beban diatas kepalanya berjalan tanpa mengeluh melewati kami. Saya bertanya dalam hati, hendak pergi kemanakah ibu tersebut? Apa yang beliau bawa dalam bakulnya?

Salah seorang teman saya bertanya pada beliau, dengan bahasa Jawanya yang pas-pasan. Beliau mengenalkan dirinya dengan bahasa Indonesia pas-pasan juga. Namanya Ibu Suparti . Ternyata Bu Suparti, hendak berjualan makanan bersama suaminya di pos II. Kami benar-benar tercengang dengan jawaban si ibu, semangat kami pun naik kembali. Kami mengikuti langkah ibu tersebut menuju pos II.

Sesampainya di pos II, sebuah shelter sederhana yang terbuat dari selembar terpal lusuh dan batang pohon kecil dengan seorang kakek yang sedang menyalakan api untuk memasak, meyakinkan diriku bahwa itulah warung milik ibu Suparti. Sambil beristirahat dan mengisi lagi perut yang kosong, kami mencoba berkomunikasi dengan mereka. Sayangnya si bapak tidak bias menggunakan bahasa Indonesia, sehingga kami hanya bisa berkomunikasi dengan si ibu saja. Ibu mengenalkan suaminya kepada kami, bapak Ngatmo namanya.

Menurut si ibu, setiap akhir minggu pos II ini memang selalu ramai oleh para pendaki ataupun orang-orang yang akan berkemah, apalagi momen agustus-an seperti ini. Ibu dan bapak menjual makanan ringan, minuman, dan juga mie instan.

Hati ini pun menjadi terenyuh melihat mereka, perjuangan mereka untuk hidup tidaklah mudah. Lalu mengapa selama ini saya tidak pernah bisa bersyukur atas apa yang saya miliki?

Semakin tinggi tanah yang kami tapaki, semakin jarang pula tanaman yang kami temui. Medan menjadi begitu sulit, pasir dan batu-batu kecil mulai mendominasi. Hanya beberapa cantigi saja yang kami lihat. Dan dua puncak Merbabu pun sudah terlihat.

Sumbing dan Sindoro terlihat dari sini, cantik. Awan putih yang bergerombol kadang tertiup angin menutup panorama ke arah pos II, ke tempat ibu dan bapak hebat tadi. Kami pun saling mengabadikan momen ini lewat foto untuk kenangan dan buah tangan keluarga kami. Masa yang akan dikenang.

Menu malam ini istimewa, karena kami berhasil mencapai puncak tepat waktu. Kami berkemah di puncak Syarif, tempat ini cukup aman untuk dijadikan tempat berkemah. Setelah kami mendirikan shelter kami, mulailah berdatangan pendaki lain. Mereka akan mengadakan upacara memperingati hari ulang tahun Republik Indonesia.

Sabtu, 17 Agustus 2008

Hari ini Indonesia tepat berusia 63 tahun. Kalau saja dulu para pahlawan tidak berjuang merebut kemerdekaan bangsa ini, kami tidak mungkin berdiri disini. Di puncak gunung Merbabu. Dan kalau saja Kartini pada saat itu tidak memperjuangkan hak-hak perempuan, saya tidak akan ada disini, berdiri bersama mereka. Mendaki gunung, menapaki puncak-puncak tertinggi. Saya mungkin akan berada di rumah, entah itu sedang memasak atau mengurus rumah tangga.

Pagi itu juga, setelah upacara kami segera turun. Kami lewat jalur Selo, dekat Boyolali. Merapi yang gagah mengeluarkan asap kuning, berdiri tegak namun seakan melambaikan tangannya agar saya menghampirinya. Ah Merapi, kau menggodaku.

Sampailah kami di stasiun Purwosari, Jawa Tengah. Menunggu kereta yang akan membawa kami pulang.

Tantangan tidak berhenti ketika saya sudah mendapatkan puncak, tantangan yang sebenarnya ada di bawah sana. Tantangan yang sesungguhnya, tantangan kehidupan, tentang bagaimana manusia menyikapi kehidupan yang sudah Tuhan anugerahkan kepada mereka. Berjuang atau menyerah, bergerak atau diam.

Terimakasih pahlawan, berkat jasamu kami menjadi manusia yang bebas. Bebas menikmati kekayaan tanah air dengan bijaksana, mencumbui setiap sentimeter alam Indonesia.

Syukur yang sangat dalam saya panjatkan untuk Sang Maha Pencipta. Terimakasih yang besar untuk tanah air Indonesia. Merdeka !!

Saturday, December 4, 2010